21 January 2007

The Hope

Apa yang kau angankan, Rumi?

21 November 2006

Anak Sawah


Siapa yang main di sawah, pastilah pulangnya basah..
Aku dan de' Risya main ke sawah. Sawah di desa lain dengan sawah di kota. Di desa, air masih mengalir jernih di kali-kali kecil. Lumpur pun tak berbau amis, tapi berbau tanah yang lembab..
Basah..basah..basah..

02 November 2006

The Trio



Akung - Rumi - Rabbit !

Rabbit memenangkan award untuk katagori friendly pose..

01 November 2006

The Mirror


Old cabinet with old mirror
Reflecting

18 September 2006

Rain


Banyak yang bilang, wajah Rumi mirip dengan Rain - penyanyi Korea yang juga ngetop main sinetron TV -. Waktu itu yang lagi tayang di salah satu stasiun TV adalah film yang dibintangi Rain berjudul Full House. Emang iya?! Fiuhh..narsis banget..hehehehe..
Rain kok tembem geto.. Yang iya sih matanya emang sama sembab-nya..gak ada kelopaknya..dan rambut kriwilnya..

11 September 2006

Rumi and Fans..

Rada susah juga mungkin terlahir sebagai yang pertama. Anak pertama dari anak pertama yang juga anak pertama.

Rumi adalah contoh tepat untuk itu..

Anak pertama

Cucu pertama

Cicit pertama

Keponakan pertama

Semua orang serasa mengerubutinya seperti semut ngerubutin gula. Hingga kadang -mungkin- ia merasa bingung "Why me? Oh. why me?!" - - Makin lucu tingkahnya, makin seru yang nggodain, trus result-nya makin kenceng nangisnya.. Hahahahaha..

Ini foto ketika Rumi baru 1 tahun, di Bandung, dimana Rumi melangkah untuk pertama kalinya. Di rumah Salma, ketika semua berkumpul bersama.. Kangen rumah Bandung.. Sayang Salma & family sudah pindah ke Madiun, ya..

Uuh.. gak terasa.. It was 3 years ago..

10 September 2006

Geng Surabaya ke Tangerang!


Nggak tiap tahun "geng Surabaya" ini mampir ke rumah. Biasanya lewat-lewat doang, meskipun Surabaya - Lampung pasti lewat Bitung! Hehehehe..

Paham banget..pasti "supir-e" yang gak lain adalah Pak Dhe Bayu sendiri udah kepanasen pantat-e nyetir solo sepanjang jalan Daendels. Iya, Pakdhe? Hehehehe..

Rumi, Puput dan Didi..
Main di tenda [hadiah dari Uti Jember] tapi di ruang tamu, di dalam rumah. Tenda yang cukup buat tidur 5 orang dewasa dipasang dengan cueknya di ruang tamu! Dialas kasur pula.. Ck..ck..ck..kids..

Lihatlah.. bukankah lebih pantas jika Rumi yang jadi adiknya Didi? Lebih mirip geto.. Sedangkan Puput mata-nya belo'.. pipinya gak cubby.. Hehehehe.. Hey, geng Surabaya! Kapan lagi main sama-sama? Kalau Ayah lagi ada bisnis di Jakarta, Mas Didi dan Mbak Puput ikut aja.. Aku kesepian nih..

09 September 2006

Cantik, pinter tapi galak..


Tristan Noa Araisya..
Namanya bikin orang bingung, ini laki-laki apa perempuan ya? Tapi asli, ini nama perempuan yang lahir 11 Januari 2001 (ultahnya bareng Indosiar, ya? Hehehehe..). Sepupu Rumi yang tinggal di Blitar..
Dalam hal-hal tertentu Rumi dan Risya bisa menjadi tim yang sangat solid untuk mengobrak-abrik dunia. Tapi di saat yang lain juga bisa menjadikan ruang keluarga yang harusnya ceria dan menyenangkan menjadi ajang pertarungan yang panas.. Adalah bagus, sekali-sekali Rumi (yang tidak terbiasa punya saudara dalam sehari-hari) dicoba untuk belajar memahami dan mengerti bahwa ada juga orang lain, yaitu adek Risya yang juga terbiasa menjadi raja..eh, ratu di lingkungannya. Agar rumah Uti dan Akung jadi seruuu..... Hahahahahaha...
Cantik, kalau Ibu-nya jadi ke Jepang nyusul Bapak, mau kan tinggal di Tangerang sama Rumi?

04 September 2006

Ayah mohoonn..

"Rumi..jangan dong nak.. tolong jangan dilempar-lempar begitu..", pinta si Ayah.
"Ayah marah?!" rajuknya.
"Nggak.."
"Kenapa?!" bibirnya mulai mewek
"Ya nggak kenapa-kenapa", jawab Ayah
"Tapi kenapa marah?!" ulangnya lagi
"Hmm.." sungut Ayah
"Kenapa hmm?!" kejar Rumi lagi

Begini terus tiap hari, rata-rata 2 atau 3 kali sehari..
Pertanyaannya mengejar sampai dia mendapatkan apa yang menjadi targetnya.

"Ayah, mohooonnn...", pintanya melas sebagai closing dari rengekannya.

30 August 2006

Oom Lukman & tante Arti


Niey..yang namanya Oom Lukman dan Tante Arti..
Tante Arti'..Bandung yang segitu ramenya jadi sepi ya kalo gak ada Oom Lukman?!
Makanya ayo semangat..semangat..biar maju sidang sesuai target!
Oom Lukman..pasti kedinginan di Tembagapura. Tapi gak popo Oom..sekalian buat menghabiskan timbunan lemak yang di perut itu lho.. Hehehehehe.. Kalo lemaknya dah habis telpon Rumi ya..nanti dikirim lemak dari sini deh..

20 August 2006

Yang pada numpang nampang..




Maaphf..numpang nampang ya, Mee..
Sebab kayaknya cuma Ibunya Rumi nih yang keganjenan nampang begenee... hahahahaha.... maapf.. Tapi keren, kan ya? Kapan lagi bisa foto di depan mobil balap gene..

Ayah dan Oom Lukman, pas tanggal 17 Agustus 2006 kemaren, niat banget upacara bendera di Istana Merdeka bareng 'geng' Tambak -seperti biasa-. Fotonya?! Hmm..keren banget.. Berjalan di sepanjang jalan masuk Istana, serasa jadi selebritis dunia. Ratusan tukang foto jeprat jepret tanpa kita minta.. Kitanya juga makin lebar senyum, makin nampang, makin pede..fiuhh..tukang foto makin berebut njepretin kameranya. Padahal belum tentu juga foto-foto itu kita tebuss.... Aihh..

01 August 2006

Rumi jadi icon F1-nya Bridgestone?


Hah?! Rumi jadi icon-nya F! Bridgestone? Yang bener.. Tuh liat, matching banget geto baju ama mobil-nya!
Itu emang sengaja! Hari Minggu itu adalah hari terakhir pameran IMS = Indonesia Motor Show di Hall JCC Senayan. Tapi ributnya udah dari hari Sabtu,"Ayaaah..besok kita jadi kan ke Jakarta liat mobil F1? Liat Lightning McQueen seperti yang diceritain Ibuk kemaren? Liat mobil Superman itu, Yah? Jadi kan?"
Begitu terus sepanjang hari, sampe ayahnya juga lama-lama bete njawabnya. Hehehehe..
Ibuknya emang udah liat duluan, dapet tiket gratisan dari kantor.. Tapi liat pameran mobil sendiri, menemukan hal-hal yang pasti membuat Rumi excited malah membuat acara nonton IMS gratis terasa garing! Ahh..coba anakku juga ikut nonton..
Maka, berangkatlah hari Minggu itu si Ayah dan si Rumi ke IMS, Ibuknya piket jaga rumah. Macet sepanjang jalan terus dilaporkan per telepon. Kasihaan.. Berangkat jam 10 sampai di tempat jam 11.30 dan Rumi langsung lari ke sana kemari seperti kesurupan! Mata blingsatan kalap melihat mobil-mobil mengkilap berjejer.. Lebih kalap lagi setelah melihat Honda Jazz yang dicat hingga mirip tokoh Lightning McQueen di film The Cars! Saking banyaknya hal menarik yang pengen dilihat, sampai ngos-ngosan lari-lari tak tentu arah..
Menjerit-jerit girang lah RUmi melihat Toyota Yaris biru dicat semprot dengan tokoh Superman sedang terbang di sisi kiri kanan mobil. Apalagi mobil itu boleh dinaiki..Rumi nggak mau turun hingga harus berantem dengan anak lain yang antri pengen duduk di cockpit! Duhh..
Lalu di stand Bridgestone yang memajang replika mobil F1, Rumi kegirangan karena menyadari bajunya matching dengan mobil yang dipejeng! Sesuai aturannya : "Dilarang Menyentuh Mobil". Tapi Rumi diperbolehkan megang, ngelus-elus, naik dan foto di sebelahnya! Cuma karena baju yang dipake pas banget.. Hehehehe..
My lucky son!

28 July 2006

Rumi dan Uti


Ini foto Rumi sama numero uno fans-nya..Uti!!!
Hahahaha.. Rumi mo berangkat sekolah, Uti dengan berat hati berpisah.. :-)
Uti ke rumah Rumi dalam rangka wisuda Oom Lukman di ITB - mBandung 22 Juli 2006, tepat 6 hari sebelum ultahnya Oom Lukman..
Selamat lulus ya, Oom..
Selamat Ulang Tahun..

01 July 2006

Rumi's face


inilah wajah Rumi pertengahan tahun lalu, Juni 2006.

13 April 2006

Rumi in red


Ini foto Rumi waktu mudik ke Blitar.. He always looks gorgeous in red! Doesn't he?!

10 April 2006

Dua Anak Sawah


Rumi histeris melihat "tanah lapang" tanpa batas terbentang di depannya. Dengan gundukan-gundukan beraneka macam, mulai jerami, batang jagung yang dibakar, rumput-rumput yang teronggok. Dihiasi dengan sungai kecil-kecil di sekeliling petakannya. Itu bukan tanah lapang, Mee! Itu yang disebut di buku-buku cerita, di cerpen-cerpennya Bobo sebagai S A W A H.. Now you can see "sawah" with your own eyes!
Rumi ke sawah bareng Ibuk, Uti dan de' Risa. Main api, main kejar-kejaran sampe keringetan. Tapi kekeuh gak mau pulang! Kehausan-lah yang memaksa semua pulang..dengan menenteng 2 kelapa muda hasil panjatan Pakdhe Sinto, orang yang dipercaya menggarap sawah. Hmm..kelapa muda..segarrr....

08 March 2006

Menjelang 4 Tahun Usia Rumi

Karena semalam ia terus bercerita bertanya dan membolak-balik halaman majalah mainan Toymagz, pagi ini susah sekali ia kubangunkan. Padahal jam 7 teng ia sudah harus berada di sekolah untuk bersama-sama teman dan gurunya pergi ke Modernland untuk berenang..
Setiap hari aku selalu terkagum-kagum dengan anakku ini.. Pipinya, matanya, rambutnya, badan besarnya..bagiku semua seperti sesuatu yang baru kulihat..
Tingginya sudah 110 cm dan beratnya 22 kilogram, membuat dokter yang melakukan pemeriksaan rutin ke sekolah hampir tak percaya kalau anak ini belum genap berusia 4 tahun. Huuh..apalagi kalau bu dokter itu tau berapa nomor sepatu anakku, tentu ia lebih tak percaya. Nomor sepatu Rumi di umur 4 tahun ini sudah 32 untuk sepatu terbuka dan 33 untuk sepatu tertutup..Hehehehehe..itu ukuran sepatu anak kelas 2 SD!
"I love you, San!" (bukan Son tapi San..dari kata Hasan! :-)) ..dan ia akan membalas dengan "I love you, Buk"
Tapi kalau kubilang "I love you, Ndut!" ia akan membalas " I love you, bawel.."
Hahahahaha.. That's my son!

07 September 2005

Kebayang nggak sih?!



Kebayang nggak sih, Rumi pernah berambut segondrong ini?! Anehnya, makin panjang itu rambut..makin nggak keruan bentuknya. Arah memanjangnya sama sekali nggak ikut aturan Mister Issaac Newton tentang gravitasi itu. Tapi makin panjang, rambutnya makin ikal kayak rambut Nellie di serial Little House in The Prairie, bergulung-gulung kayak rambut Cinderella! Kalau nggak sempat nyisir, malah mirip Eddie Brokoli! Sebenernya kalau basah, rambut itu sudah lewat bahu..tapi berhubung keadaannya begitu adanya, rambut itu jadi lebih mirip sarang burung daripada rambut! Hehehehe...

21 March 2005

Cinta Tiga Tahun


Tanpa terasa, perjalanan ini telah 3 tahun lamanya. Rasanya baru seminggu yang lalu, kami membuainya di atas bantal dalam gendongan kami. Begitu mungilnya ketika ia hadir di kehidupan ini, merah kurus tak berdaya. Matanya begitu kecil menatap penuh keraguan dan kelemahan, seakan ia belum siap menentang silaunya matahari, 4 minggu lebih awal dari perkiraan dokter. Kulitnya keriput ditumbuhi bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya.
Setahun, dua tahun tak kunjung ia berucap sepatah kata dengan jelas dan benar. Bahkan justru 2 tahun adalah titik balik dari kemajuan yang diraihnya sedikit demi sedikit. Tak lagi ia mau mengucapkan terimakasih, tak lagi mau memanggil ayahnya, tak lagi mau mengucapkan kata-kata sederhana yang sebelumnya ia sudah bisa. Kami nyaris putus asa, meski dengan terus berusaha kuat, kami mengusahakan yang terbaik untuknya.
Hampir saja kami ‘tersesat’ di belantara bisnis kedokteran di Indonesia. Hanya beberapa jam sebelum kami membawanya ke tempat observasi, kegigihan kami untuk menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan di benak kami, perburuan kami untuk mendapatkan penjelasan dari orang yang juga mengalami hal serupa, melalui dunia maya masuklah kami dalam lingkungan yang lebih seperti sebuah keluarga besar daripada sebuah milis. Kontak pertama kami dengan ‘Presiden’ Milis Anak Berbakat Indonesia, Ibu Julia M van Tiel telah mengangkat tiga perempat beban yang rasanya menghimpit kami. Dirujuklah kami ke dokter baik hati dr. Waldi Nurhamzah yang dengan kesabarannya mendengarkan penjelasan kami, dan kemudian memberikan pendapatnya tentang Rumi. Dengan ceplas ceplosnya, dokter Waldi dalam kalimat pertamanya saat kami bertemu menanyakan, ‘Anak ini yang Ibu khawatirkan? Wong ndak pa-pa gitu lho!’ Seharusnya, ketika mendapat jawaban seperti itu kami segera pamitan saja. Tapi kepalang tanggung sudah jauh-jauh dari rumah ke Pondok Pinang, kami menanyakan pula penanganan tepat untuk anak kami.
Nanti jika Rumi menjadi dokter, saya akan menyuruhnya berguru moral kepada dokter Waldi. Dengan reputasinya yang bak selebritis (karena 2 minggu sekali kolom-nya muncul di tabloid ibukota dan telah pula menerbitkan buku kesehatan), dokter Waldi harusnya sudah hidup bak raja-raja di istana di bagian selatan Ibukota seperti dokter-dokter lainnya. Tapi beliau tetap berpenampilan apa adanya, tidak mewah tapi penuh selera, tidak tampak berlebihan tapi tampak bahagia.
Kembali ke Rumi.
Bayi 2080 gram 44 cm itu kini telah berusia 3 tahun 17.5 kg 103 cm. Jika tak melihatnya tiap hari, tak ada yang percaya bahwa itu adalah makhluk yang sama dengan yang saya bawa pulang 3 tahun yang lalu dari RS Siloam – Karawaci. Kini ia mulai mengejar ketertinggalannya. Belajar berkomunikasi dengan siapa saja, bertanya apa saja, menirukan apa saja, bahkan mengarang lagu-nya sendiri. Lagu ‘plesetan’-nya yang pertama bercerita tentang ‘Power Rangers – Chibum’!
Saya tidak persis tau, apakah ‘sekolah’ bermain yang benar-benar hanya berisi acara bermain itu yang telah menstimulus kemampuan bicaranya. Atau karena memang selama ini ia hanya merekam semuanya untuk dirinya sendiri dan baru diucapkannya akhir-akhir ini? Kami sungguh harus menahan air mata kami kuat-kuat agar tak jatuh, ketika melihatnya dengan penuh semangat ingin menceritakan sesuatu yang telah memenuh-sesaki pikirannya namun yang keluar hanya sepatah dua patah kata yang jauh dari sempurna untuk menjadi kalimat. Kata-kata itu seperti telah membuncah di kepalanya, dan siap keluar lewat mulutnya. Tapi mulut itu seperti sebuah pintu dam yang hanya dibuka kecil. Bibirnya meruncing dengan mata bersinar-sinar penuh semangat, bersamaan dengan tangannya yang sibuk mengekspresikan ceritanya namun kata yang keluar hanya kutipan-kutipannya..
Namun begitu, harta tak ternilai kami ini sungguh perasa dan humoris. Ia tak tahan dengan kata-kata keras, tak tahan melihat air mata, tak tahan melihat kekerasan, tak tahan melihat kesakitan, tak tahan melihat ketegangan.. Hal yang paling menyenangkan baginya adalah berguling-guling digelitik sambil tertawa-tawa, menggoda orang di rumah dengan kentutnya lantas tertawa-tawa atau melihat film lucu favoritnya: Mr. Bean..
Seperti hari-hari kemarin. Hari ini saya akan pulang kerja di sore hari dengan penuh semangat, semangat yang justru tidak saya miliki di pagi hari ketika berangkat. Di tempat yang hanya berjarak 15 menit dari rumah ini, panggilan ‘chibuum’ itu terasa demikian jauhnya dan sanggup menjatuhkan air mata saya karena kangen. Saya tidak tahu mengapa. Sayalah orang yang paling dekat dengan Rumi, tanpa bisa disangkal. Ketika lidahnya sudah mampu memanggil Ayah, Opung, Tata, Empin dan beberapa nama teman-temannya, justru panggilan ‘Ibu’ masih dilafalkannya dengan ‘chibum’, entah mengapa. Hanya berjarak 7 kilometer dari rumah, rasanya saya terpisah ribuan kilometer untuk merengkuhnya dan membaui badannya yang terus berkeringat karena tak bisa berhenti bergerak. Hanya berpisah 10 jam, rasanya saya sudah tak melihatnya bertahun-tahun.. Ah, inilah cinta. Dia lah cinta itu sendiri..

Terbanglah tinggi, Nak..
Bersama awan-awan

Bersinarlah terang , Nak..
Bersama matahari

Berlarilah kencang, Nak..
Bersama angin

Berlayarlah jauh, Nak..
Bersama ombak lautan

Jangan pernah berhenti
Meski engkau merasa sendiri

25 February 2005

Tentang Rumi

Friday, September 24, 2004

Bersinarlah, nak..

Bersama matahari

Berlarilah, nak..
Mengejar angin

Terbanglah, nak..
Bersama awan-awan tinggi

Jangan pernah berhenti..
Meski engkau merasa sendiri

posted by Rumi's Place @ 1:22 AM

Dialah cinta.. Dialah bahagia.. Dialah yang tak ternilai..