07 September 2005

Kebayang nggak sih?!



Kebayang nggak sih, Rumi pernah berambut segondrong ini?! Anehnya, makin panjang itu rambut..makin nggak keruan bentuknya. Arah memanjangnya sama sekali nggak ikut aturan Mister Issaac Newton tentang gravitasi itu. Tapi makin panjang, rambutnya makin ikal kayak rambut Nellie di serial Little House in The Prairie, bergulung-gulung kayak rambut Cinderella! Kalau nggak sempat nyisir, malah mirip Eddie Brokoli! Sebenernya kalau basah, rambut itu sudah lewat bahu..tapi berhubung keadaannya begitu adanya, rambut itu jadi lebih mirip sarang burung daripada rambut! Hehehehe...

21 March 2005

Cinta Tiga Tahun


Tanpa terasa, perjalanan ini telah 3 tahun lamanya. Rasanya baru seminggu yang lalu, kami membuainya di atas bantal dalam gendongan kami. Begitu mungilnya ketika ia hadir di kehidupan ini, merah kurus tak berdaya. Matanya begitu kecil menatap penuh keraguan dan kelemahan, seakan ia belum siap menentang silaunya matahari, 4 minggu lebih awal dari perkiraan dokter. Kulitnya keriput ditumbuhi bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya.
Setahun, dua tahun tak kunjung ia berucap sepatah kata dengan jelas dan benar. Bahkan justru 2 tahun adalah titik balik dari kemajuan yang diraihnya sedikit demi sedikit. Tak lagi ia mau mengucapkan terimakasih, tak lagi mau memanggil ayahnya, tak lagi mau mengucapkan kata-kata sederhana yang sebelumnya ia sudah bisa. Kami nyaris putus asa, meski dengan terus berusaha kuat, kami mengusahakan yang terbaik untuknya.
Hampir saja kami ‘tersesat’ di belantara bisnis kedokteran di Indonesia. Hanya beberapa jam sebelum kami membawanya ke tempat observasi, kegigihan kami untuk menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan di benak kami, perburuan kami untuk mendapatkan penjelasan dari orang yang juga mengalami hal serupa, melalui dunia maya masuklah kami dalam lingkungan yang lebih seperti sebuah keluarga besar daripada sebuah milis. Kontak pertama kami dengan ‘Presiden’ Milis Anak Berbakat Indonesia, Ibu Julia M van Tiel telah mengangkat tiga perempat beban yang rasanya menghimpit kami. Dirujuklah kami ke dokter baik hati dr. Waldi Nurhamzah yang dengan kesabarannya mendengarkan penjelasan kami, dan kemudian memberikan pendapatnya tentang Rumi. Dengan ceplas ceplosnya, dokter Waldi dalam kalimat pertamanya saat kami bertemu menanyakan, ‘Anak ini yang Ibu khawatirkan? Wong ndak pa-pa gitu lho!’ Seharusnya, ketika mendapat jawaban seperti itu kami segera pamitan saja. Tapi kepalang tanggung sudah jauh-jauh dari rumah ke Pondok Pinang, kami menanyakan pula penanganan tepat untuk anak kami.
Nanti jika Rumi menjadi dokter, saya akan menyuruhnya berguru moral kepada dokter Waldi. Dengan reputasinya yang bak selebritis (karena 2 minggu sekali kolom-nya muncul di tabloid ibukota dan telah pula menerbitkan buku kesehatan), dokter Waldi harusnya sudah hidup bak raja-raja di istana di bagian selatan Ibukota seperti dokter-dokter lainnya. Tapi beliau tetap berpenampilan apa adanya, tidak mewah tapi penuh selera, tidak tampak berlebihan tapi tampak bahagia.
Kembali ke Rumi.
Bayi 2080 gram 44 cm itu kini telah berusia 3 tahun 17.5 kg 103 cm. Jika tak melihatnya tiap hari, tak ada yang percaya bahwa itu adalah makhluk yang sama dengan yang saya bawa pulang 3 tahun yang lalu dari RS Siloam – Karawaci. Kini ia mulai mengejar ketertinggalannya. Belajar berkomunikasi dengan siapa saja, bertanya apa saja, menirukan apa saja, bahkan mengarang lagu-nya sendiri. Lagu ‘plesetan’-nya yang pertama bercerita tentang ‘Power Rangers – Chibum’!
Saya tidak persis tau, apakah ‘sekolah’ bermain yang benar-benar hanya berisi acara bermain itu yang telah menstimulus kemampuan bicaranya. Atau karena memang selama ini ia hanya merekam semuanya untuk dirinya sendiri dan baru diucapkannya akhir-akhir ini? Kami sungguh harus menahan air mata kami kuat-kuat agar tak jatuh, ketika melihatnya dengan penuh semangat ingin menceritakan sesuatu yang telah memenuh-sesaki pikirannya namun yang keluar hanya sepatah dua patah kata yang jauh dari sempurna untuk menjadi kalimat. Kata-kata itu seperti telah membuncah di kepalanya, dan siap keluar lewat mulutnya. Tapi mulut itu seperti sebuah pintu dam yang hanya dibuka kecil. Bibirnya meruncing dengan mata bersinar-sinar penuh semangat, bersamaan dengan tangannya yang sibuk mengekspresikan ceritanya namun kata yang keluar hanya kutipan-kutipannya..
Namun begitu, harta tak ternilai kami ini sungguh perasa dan humoris. Ia tak tahan dengan kata-kata keras, tak tahan melihat air mata, tak tahan melihat kekerasan, tak tahan melihat kesakitan, tak tahan melihat ketegangan.. Hal yang paling menyenangkan baginya adalah berguling-guling digelitik sambil tertawa-tawa, menggoda orang di rumah dengan kentutnya lantas tertawa-tawa atau melihat film lucu favoritnya: Mr. Bean..
Seperti hari-hari kemarin. Hari ini saya akan pulang kerja di sore hari dengan penuh semangat, semangat yang justru tidak saya miliki di pagi hari ketika berangkat. Di tempat yang hanya berjarak 15 menit dari rumah ini, panggilan ‘chibuum’ itu terasa demikian jauhnya dan sanggup menjatuhkan air mata saya karena kangen. Saya tidak tahu mengapa. Sayalah orang yang paling dekat dengan Rumi, tanpa bisa disangkal. Ketika lidahnya sudah mampu memanggil Ayah, Opung, Tata, Empin dan beberapa nama teman-temannya, justru panggilan ‘Ibu’ masih dilafalkannya dengan ‘chibum’, entah mengapa. Hanya berjarak 7 kilometer dari rumah, rasanya saya terpisah ribuan kilometer untuk merengkuhnya dan membaui badannya yang terus berkeringat karena tak bisa berhenti bergerak. Hanya berpisah 10 jam, rasanya saya sudah tak melihatnya bertahun-tahun.. Ah, inilah cinta. Dia lah cinta itu sendiri..

Terbanglah tinggi, Nak..
Bersama awan-awan

Bersinarlah terang , Nak..
Bersama matahari

Berlarilah kencang, Nak..
Bersama angin

Berlayarlah jauh, Nak..
Bersama ombak lautan

Jangan pernah berhenti
Meski engkau merasa sendiri

25 February 2005

Tentang Rumi

Friday, September 24, 2004

Bersinarlah, nak..

Bersama matahari

Berlarilah, nak..
Mengejar angin

Terbanglah, nak..
Bersama awan-awan tinggi

Jangan pernah berhenti..
Meski engkau merasa sendiri

posted by Rumi's Place @ 1:22 AM

Dialah cinta.. Dialah bahagia.. Dialah yang tak ternilai..